Ketika Aspal Kota Berubah Jadi Medan Perang: Membaca Luka Sosial di Balik Bentrok Pengemudi Daring dan Mahasiswa

Bentrokan antara pengemudi ojek daring dan mahasiswa bukan sekadar keributan jalanan. Ada luka struktural yang perlu dibaca ulang sebelum kita menghakimi.

Ketika Aspal Kota Berubah Jadi Medan Perang: Membaca Luka Sosial di Balik Bentrok Pengemudi Daring dan Mahasiswa

Ketika Aspal Kota Berubah Jadi Medan Perang: Membaca Luka Sosial di Balik Bentrok Pengemudi Daring dan Mahasiswa

Bayangkan dua orang yang sama-sama bangun pagi sebelum matahari terbit. Yang satu menggendong tas berisi buku dan spanduk tuntutan, yang lain menenteng helm dan berharap setoran hari itu tidak bocor. Mereka tidak pernah bertemu untuk berkelahi. Tapi di suatu persimpangan, nasib mempertemukan mereka dalam sebuah keributan yang kemudian viral, dibagi, dan dihakimi jutaan orang tanpa konteks. Inilah wajah baru kerentanan kota kita.

Fenomena gesekan fisik antara pengemudi ojek daring dan kelompok mahasiswa di kawasan perkotaan bukanlah sekadar perselisihan lalu lintas yang selesai setelah polisi datang. Ada lapisan sosiologis yang lebih dalam: perebutan fungsi ruang fisik kota, kerentanan kelas sosial-ekonomi urban, dan kecepatan mobilisasi massa berbasis jejaring digital. Sebuah tulisan di Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus pernah mengingatkan bahwa insiden kekerasan di lingkungan kampus menjadi cermin retaknya komunikasi sosial serta rapuhnya ruang publik saat dua kelompok warga beririsan di koridor jalan yang sama.

Daftar Isi

Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama

Pertanyaan kritisnya: mengapa dua kelompok yang secara struktural sama-sama terpinggirkan justru saling berhadapan? Jawabannya terletak pada bagaimana ruang kota diperebutkan dengan aturan yang tidak setara.

  • Mahasiswa dan Ruang Artikulasi Politik: Aksi unjuk rasa memanfaatkan badan jalan untuk menarik perhatian publik dan menekan pembuat kebijakan. Pembatasan akses jalur diposisikan sebagai instrumen unjuk kekuatan simbolik di ruang terbuka. Ini bukan sekadar soal mencari perhatian, melainkan strategi bertahan hidup politik di ruang yang makin sempit.
  • Pekerja Platform dan Ketepatan Akses Rute: Di sisi lain, pengemudi ojek daring bekerja di bawah kendali algoritma yang menuntut ketepatan waktu tempuh, efisiensi rute, dan pemenuhan target harian. Terhambatnya akses jalan langsung memotong pendapatan riil serta berisiko mendatangkan penalti performa dari sistem aplikasi. Bagi mereka, kemacetan bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman langsung terhadap nafkah.

Ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi seketika, gesekan kecil di garis depan unjuk rasa dengan cepat menyulut eskalasi fisik. Adu argumen saat melintasi barisan demonstrasi dapat segera berujung pada perusakan properti dan benturan massal antarkelompok. Di sinilah kita perlu bertanya: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh konflik ini? Karena jelas, kedua kelompok ini tidak.

"Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa."

Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik

Ciri paling kentara dari dinamika pekerja sektor ekonomi gig adalah kecepatan konsolidasi massanya. Jaringan grup pesan instan yang sehari-hari berfungsi sebagai bantalan perlindungan mandiri untuk berbagi rute atau informasi darurat dapat berubah seketika menjadi kanal mobilisasi fisik.

Penyebaran cuplikan video pendek tanpa konteks utuh di media sosial memantik apa yang disebut Émile Durkheim sebagai solidaritas mekanis: kerugian yang dialami satu anggota dipandang sebagai ancaman langsung terhadap martabat seluruh paguyuban. Ratusan pengemudi dapat bergerak mendatangi titik lokasi dalam waktu singkat, melampaui kemampuan negosiasi lapangan maupun pengendalian awal aparat setempat.

Ini adalah sisi gelap dari teknologi yang biasanya kita puji. Algoritma yang mengatur ritme kerja ternyata juga menciptakan jaringan solidaritas yang bisa berubah menjadi massa dalam hitungan menit. Pertanyaannya, apakah kita pernah benar-benar memahami kekuatan ini sebelum ia meledak?

Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga

Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Keduanya sama-sama lelah, sama-sama terdesak, dan sama-sama tidak punya banyak pilihan.

Alih-alih saling menyalahkan, sudah saatnya kita membaca ulang akar masalahnya. Konflik ini bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan tentang sistem yang gagal menciptakan ruang aman bagi warganya untuk bergerak, bekerja, dan bersuara tanpa harus saling melukai.

Langkah Konkret yang Harus Diambil

Pencegahan peristiwa serupa di masa depan menuntut langkah konkret yang tidak bisa lagi ditunda:

  1. Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan. Empati harus diwujudkan dalam manajemen lapangan, bukan hanya slogan.
  2. Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak. Jangan biarkan emosi sesaat menghancurkan solidaritas yang dibangun bertahun-tahun.
  3. Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas. Mediasi bukan tanda kelemahan, melainkan investasi jangka panjang untuk perdamaian kota.

Pada akhirnya, kota bukan hanya soal beton dan aspal. Kota adalah tentang manusia-manusia yang berbagi ruang, napas, dan harapan. Jika kita terus membiarkan retak ini melebar, maka yang kita bangun bukanlah peradaban, melainkan arena pertarungan yang tak berujung. Sudah waktunya kita berhenti bertanya "siapa yang salah?" dan mulai bertanya "apa yang bisa kita perbaiki bersama?".

Referensi

Sumber / Referensi

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
OFFICIAL

Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.

https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampus

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Properties For Sale And Rent.